jump to navigation

Indonesia Bebas Buta Aksara 2015 Diragukan 26/11/2012

Posted by slbypbbkarimun in Kurikulum SMA.
trackback

Target Pemerintah Republik Indonesia bebas dari buta aksara di tahun 2015 mendatang patut diragukan. Beberapa pengamat bidang pendidikan sangat meragukan hal tersebut. Pemerintah dinilai belum serius meneyelesaikan persoalan bangsa dibidang pendidikan. Seperti masih minimnya jumlah tenaga pengajar di sejumlah daerah.

Penyebaran guru yang tidak merata di Indonesia juga kerap dikeluhkan kepada pemerintah. Namun sayangnya masalah ini tak kunjung terselesaikan, bahkan bukan hanya penyebarannya yang tak merata tapi juga banyak sekolah khususnya Sekolah Dasar (SD) yang kekurangan guru.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo, mengatakan bahwa kekurangan guru SD yang terjadi di nusantara saat ini tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah. Dari keluhan pada Agustus lalu yang menyebutkan bahwa 94 persen daerah mengalami kekurangan guru SD, tak ada perubahan hingga sekarang. Bahkan, menurutnya, saat ini tercatat kebutuhan guru di sekitar 96 persen kabupaten dan kota di seluruh Indonesia tak terpenuhi.

“Kekurangan guru SD ini sudah lama terjadi. Dari 497 kabupaten kota, hanya dua kabupaten kota saja yang sudah terpenuhi,” kata Sulistiyo, saat jumpa pers di Kantor PGRI, Jalan Tanah Abang III, Jakarta, Senin (26/11/2012).

Bahkan ia mengatakan bahwa jumlah guru SD di ibukota saja masih kurang kuotanya. Minimnya jumlah guru SD ini, lanjutnya, dikarenakan banyak guru yang diangkat pada masa orde baru kini telah pensiun. Sementara itu, guru-guru muda yang ada saat ini tidak dilakukan pengangkatan.

“Ini hampir berjalan sekitar tiga tahun lebih karena pensiunan guru sangat besar dan tak ada gantinya,” ungkap Sulistiyo.

Ia pun mengusulkan solusi untuk masalah ini dengan melaksanakan pengangkatan guru honorer yang ada saat ini terutama guru honorer yang menjalankan kewajibannya dengan baik. Selain untuk memenuhi kebutuhan jumlah guru yang kurang, pengangkatan ini juga dapat memberi jaminan pada guru honorer baik dari profesi maupun kesejahteraan.

“Jadi tidak hanya cukup memperbaiki distribusi tapi pengangkatan guru juga harus dipertimbangkan,” tandasnya.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: