jump to navigation

Cacat Bukan Penghalang Untuk Meraih Prestasi 05/07/2010

Posted by slbypbbkarimun in Uncategorized.
Tags:
trackback

Penyandang Cacat Siswa SLB YPBB Karimun

Budi Prayitno : Jika langkah ini tidak di dukung Oleh Pemerintah dan Masyarakat sampai kapan mereka bertahan lama dan harus bergantung pada orang lain dan tidak bisa mandiri, tegasnya.

KARIMUN Kepri Pos – Dari 2,1 juta penyandang cacat di Indonesia (data dari berbagai sumber)baru 70.000 orang atau 4 % diantaranya  usia (5-18 tahun) yang memperoleh pendidikan khusus di sekolah luar biasa (SLB),  “Dari 70.000 anak penyandang cacat yang kini memperoleh pendidikan di SLB yang sebagian besar sekolahnya (62 persen) dikelola swasta, sedang sisanya SLB milik pemerintah,” ujar Budi Prayitno Pendiri SLB YPBB Karimun  di Ruang Kerjanya.

Pada kesempatan itu, kepada Kepri Pos Budi berharap pemerintah lebih perhatian bagi anak penyandang acat agar kelak dewasa mereka dapat mandiri dan tidak harus bergantung orang lain. “Sesuai kesepakatan negera-negara anggota PBB pada tahun 2012 bahwa minimal 75 persen dari penyandang cacat di setiap negera telah memperoleh pendidikan khusus agar mereka menjadi warga negara yang ikut serta membangun negaranya,” katanya.

Selain itu Budi Juga mengajak pemerintah dan masyarakat untuk ikut peduli dan memperhatikan Penyandang cacat dengan memberikan pelayanan yang sama dengan warga yang normal, sehingga penyandang cacat akan tumbuh, berkembang dan memiliki keterampilan untuk mandiri, ungkapnya.  YPBB sendiri lanjutnya, telah berupaya semaksimal mungkin memperhatikan mereka dengan membebaskan biya sekolah untuk penyandang cacat di Karimun. Nah jika langkah ini tidak di dukung Oleh Pemerintah dan Masyarakat sampai kapan mereka mampu bertahan lama dan harus bergantung pada orang lain karena tidak bisa mandiri, tegasnya.

Menurutnya, penyandang cacat di SLB YPBB Karimun terbagi atas tuna runggu (cacat pendengaran),  tuna daksa (cacat tubuh) dan tuna grahita (cacat kelambatan berpikir) serta tuna ganda  itu semua dapat didik dan dilatih melalui sekolah khusus sehingga dapat mandiri.

Karena itu, dia menilai keliru jika ada masyarakat atau keluarga yang “malu” memiliki anak penyandang cacat, tapi perlu meberikan pelayanan yang sama dengan anak normal, seperti menyekolahkan ke SLB atau memberikan keterampilan tertentu. Budi menegaskan di SLB YPBB Karimun yang dipimpinnya bergerak menyelenggarakan pendidikan Khusus dan Pendidikan layanan khusus bagi siswanya tanpa dikenakan biaya, para anak tuna grahita mendapat pendidikan dan keterampilan, seperti menjahit dan pertukangan.

“Selain itu, mereka juga dapat berprestasi bagus dalam olahraga, seperti tunarungu SLB YPBB Karimun telah masuk ke tingkat Nasional porcanas sebanyak 2 0rang dan berhasil meraih juaraharapan dari cabang olah raga lari 400 meter, 300 meter dan 200 meter di kaltim.

Selain itu Siswa dari Tuna Daksa SLB YPBB Karimun juga pernah mengikuti Cabang olahraga tenis meja tingkat Nasional di Kalimantan serta olahraga cabang bulu tangkis  O2SN di Jakarta dari tuna grahita dan mengikuti kegiatan pramuka Jambore Internasional di Bumi Raja Ali Kelana Batam Tahin 2004, Jambore Nasional 2006 di Sumedang, Jambore Nasional di Cibubur Jakarta.  SLB YPBB mampu mengikuti seluruh rangkayan Kegiatan dari awal sampai selesai meskipun mereka bukan dari kalangan manusia Normal, tandasnya. (Jun)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: