jump to navigation

AKSES KERJA PEREMPUAN TUNANETRA DI INDONESIA 24/06/2010

Posted by slbypbbkarimun in Uncategorized.
Tags:
trackback

Tulisan Kiriman Aflinda S.Pd

Pandangan Budaya yang Tidak Sesuai dengan Perkembangan Zaman

Pada dasarnya budaya merupakan jati diri masyarakat sekaligus kebanggaan suatu daerah atau bangsa. Maka tak heran bila masyarakat selalu berusaha melestarikan budaya bangsanya. Karena pada prinsipnya nilai-nilai budaya tersebut menjadi norma-norma yang memberikan batasan berperilaku dalam masyarakat. Namun terkadang, nilai budaya tersebut bisa membuat orang jadi pasif tak berdaya dan pasrah. Contohnya pandangan bahwa perempuan adalah insan yang lemah.

Mungkin latar belakang pandangan inilah yang menyebabkan diadakannya menteri pemberdayaan perempuan di lembaga pemerintahan tingkat pusat, dan biro pemberdayaan perempuan di lembaga pemerintahan tingkat daerah. Dengan adanya lembaga itu, nilai budaya yang kurang sesuai dengan perkembangan zaman mulai tergeser sedikit demi sedikit. Tapi apakah lembaga di atas sudah mampu mewujudkan kesetaraan gender? Realita menjawab belum, karena saat ini perempuan masih mengalami diskriminasi baik secara struktur, pekerjaan, maupun dalam politik.

Diskriminasi Ganda

Di samping disebabkan oleh nilai budaya yang negatif, diskriminasi terhadap perempuan juga disebabkan oleh kondisi daerah tempat tinggalnya. Seperti yang terjadi pada perempuan Aceh yang mempertahankan hidup di tengah-tengah konflik dan kekacauan pasca bencana tsunami.

Konflik Aceh menyebabkan perempuan Aceh termarjinalkan. Suara ledakan bom dan dentuman senjata yang bersahutan selalu menghiasi hari-hari mereka siang dan malam. Yang terpikirkan oleh perempuan Aceh hanyalah bagaimana menyelamatkan diri dan anak-anaknya. Bahkan sebagian di antara mereka harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya akibat konflik tersebut. Banyak anak-anak yang kehilangan ayahnya.

Kondisi ini diperparah lagi dengan datangnya bencana gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang meluluhlantakkan Aceh. Kedua peristiwa di atas makin menyudutkan perempuan Aceh baik dari segi ekonomi, pendidikan, sosial maupun politik. Situasi ini juga dialami oleh perempuan difabel Aceh; bahkan perempuan difabel Aceh mengalami diskriminasi ganda, yaitu diskriminasi sebagai perempuan dan diskriminasi sebagai difabel.

Mereka kurang dilibatkan dalam kegiatan kemasyarakatan dan politik. Mereka juga belum mendapat kesempatan yang sama dengan laki-laki baik dalam pendidikan maupun pekerjaan. Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat kisah perjalanan hidup seorang perempuan difabel Aceh yang bernama Lisa.

Pendidikan Lisa, perempuan tunanetra kelahiran Sumatera Barat 25 November 1967 mengalami tunanetra sejak umur empat tahun akibat penyakit cacar. Oleh karena itu, mulai dari tingkat SD sampai SLTP, Lisa bersekolah di sekolah luar biasa. Lisa melanjutkan SLTA-nya di sekolah umum, yaitu SMA Negeri 3 Paya Kumbuh, Sumatera Barat. Selama belajar di sekolah umum, Lisa banyak memperoleh pengalaman, baik dalam bergaul maupun dalam proses pembelajaran; hal ini terutama karena anak-anak SMA yang secara psikologis masih mencari jati diri, memberikan respon yang beragam terhadap ketunanetraan Lisa.

Ada di antara mereka yang sangat baik, ada yang suka bercanda, dan lain-lain. Semua ini membuat Lisa lebih dewasa dalam berpikir dan mencari solusi bagaimana menghadapi perilaku teman-temannya tersebut. Meskipun cukup bahagia dalam hubungan pertemanan, Lisa mengalami kendala dalam proses pembelajaran karena ketiadaan fasilitas yang bisa diakses oleh tunanetra, seperti tidak adanya buku paket Braille maupun peralatan praktik Biologi, Fisika dan Kimia.

Meski dengan segala keterbatasan di atas, Lisa tetap berjuang sampai Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional ( EBTANAS ) pada tahun 1990. Sejak kecil, Lisa sudah mengagumi profesi guru. Menurutnya, guru adalah sosok yang patut dicontoh karena memberi teladan, membimbing dan menjadi pelita bagi murid-muridnya dalam meraih dan menggapai cita-cita. Karena itu jualah Lisa bercita-cita menjadi seorang guru. Untuk mewujudkan cita-citanya, Lisa mencoba melamar ke Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Setelah melalui tes bersama-sama dengan calon mahasiswa lainnya, Lisa diterima dan mengambil jurusan Sejarah.

Dalam bergaul dan belajar bersama, Lisa lebih berhasil di perguruan tinggi daripada di SMA dulu. Mungkin pengalamannya semasa SMA-lah yang menjadi bekal baginya untuk memasuki dunia kampus. Lisa bisa mengatasi masalah ketiadaan fasilitas dengan bantuan teman-temannya. Di luar jam kuliah, Lisa sering datang ke rumah temannya untuk belajar bersama. Dengan usaha yang gigih, akhirnya Lisa dapat menyelesaikan S1 dalam waktu empat tahun. Bulan Oktober 1994, Lisa diwisuda dan mendapat titel Sarjana Pendidikan.

Mencari Kerja

Ijazah sarjana tidak akan berarti bila hanya menjadi tumpukan dokumen di rak buku. Titel sarjana pendidikan tidak terasa bermanfaat bila tidak diiringi dengan penerapan ilmunya. Lisa pun mencari sekolah untuk tempatnya memberikan ilmu yang diperoleh selama kuliah. Pada akhir tahun 1995, Lisa meninggalkan kampung halamannya menuju Aceh untuk tinggal bersama kakak yang berdomisili di sana.

Sampai di Banda Aceh, Lisa mengunjungi sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) dan memasukkan permohonan sebagai tenaga pengajar. Tepat pada tanggal 1 Januari 1996, Lisa diterima menjadi guru honorer di SLB Banda Aceh tersebut.

Kondisi sekolah ternyata sangat sederhana, fasilitas kegiatan pembelajaran pun tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Buku-buku sumber semuanya dalam bentuk tulisan awas dan alat peraga seperti peta timbul tidak ada. Untuk mengatasi kendala di atas, dengan inisiatifnya sendiri, Lisa meminta bantuan teman-teman atau keluarganya untuk membacakan buku-buku sumber awas dan merekamnya ke dalam kaset. Sebagai pengganti peta timbul, Lisa menempel peta awas dengan benang. Meskipun tidak sempurna, cara ini cukup memberi gambaran tentang peta kepada anak didiknya.

Ditolak Mendaftar CPNS

Walaupun Lisa sudah bekerja, honor yang dia peroleh belum bisa menutup kebutuhan pribadinya sehingga dia masih menjadi tanggungan keluarga. Maka dengan bekal disiplin ilmu sejarah dan ijazah S1, Lisa mencoba mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Namun harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Saat hendak mendaftar, Lisa ditolak oleh panitia. Panitia mengatakan bahwa tunanetra tidak mungkin menjadi seorang guru. Selain itu, panitia juga mempermasalahkan ijazah Lisa yang bukan dari jurusan Pendidikan Luar Biasa. Panitia juga tidak mau mendaftarkan Lisa karena soal tes dalam bentuk Braille tidak tersedia.

Tahun berikutnya, yaitu tahun 1998, Lisa mencoba lagi mendaftar sebagai CPNS dengan membawa berkas Undang-undang (UU) nomor 4 tahun 1997 dan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 43 tentang Penyandang Cacat. Berkas ini diharapkan dapat menjadi dasar hukum bagi penyandang cacat seperti dirinya untuk mendapat kesempatan yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Tapi hasilnya tetap sama seperti tahun sebelumnya. Panitia menolak dengan alasan yang sama tanpa mau melihat berkas UU dan PP yang dibawa Lisa.

Kegagalan demi kegagalan tidaklah menyurutkan semangat Lisa untuk berjuang dan beraktivitas. Moto Lisa adalah ”hidup harus bermanfaat bagi orang lain, dan membagi ilmu terhadap sesama adalah amal”.

Secercah Harapan di Balik Bencana Tsunami

Setelah berhasil mempertahankan hidup dari bencana konflik, Lisa ternyata masih harus menghadapi bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Pagi itu sang surya sudah menampakkan sinarnya, burung-burung pun sudah terjaga dari tidurnya, manusia pun sudah memulai aktivitasnya. Pada saat itu pulalah sekitar jam delapan pagi, gempa mengguncang tanah rencong dengan kekuatan 9,8 skala Richter. Lebih kurang 30 menit kemudian, gelombang tsunami datang memporakporandakan Aceh dan merenggut ratusan ribu nyawa. Lisa pun terapung-apung dalam air, dengan ketinggian dua meter di dalam rumahnya sendiri. Sambil berusaha pasrah dalam doa, Lisa akhirnya selamat dari bencana yang dahsyat itu. Dengan bekal pakaian yang melekat di badan, Lisa memulai hidup dengan suasana baru. Ketika sekolah-sekolah mulai beraktivitas lagi, Lisa juga kembali mengajar di SLB seperti sebelumnya.

Banyaknya Non Government Organization (NGO) asing yang datang ke Aceh dengan membawa bermacam-macam program membuat standar hidup di Aceh naik drastis. Honor yang biasa diterima Lisa tidak lagi mencukupi untuk biaya transpor dari rumah ke sekolah. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Lisa. Ia tetap mengajar seperti biasa dengan harapan suatu saat nanti mendapat kesempatan untuk menjadi PNS.

Pada tahun 2006, diadakan pemutihan untuk guru honorer yang telah mengajar selama lima tahun. Lisa pun mencoba kembali mendatangi Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh dan memberikan berkas-berkas laporan bulanan dari sekolah tempat ia mengajar. “Pak, saya sudah mengajar di SLB Bukesra sejak tahun 1996. Berhubung saat ini ada pendaftaran pemutihan untuk guru-guru honor yang masa kerjanya di atas lima tahun, saya bermaksud ingin mendaftar karena masa kerja saya sudah lebih dari lima tahun,” kata Lisa.

“Bagaimana Ibu bisa mengajar, Ibu kan tidak bisa melihat,” jawab Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh. Lisa kembali kecewa mendengar penolakan itu. Dia pun pulang membawa map yang berisi berkas-berkas pendaftarannya.

Handicap International Mempekerjakan Penyandang Cacat

Di samping mengajar, Lisa sebenarnya juga aktif berorganisasi. Lisa mengemban tanggung jawab sebagai Ketua I Pertuni Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Ketua Dewan Pertimbangan Cabang Kota Banda Aceh. Ketika Lisa melakukan aktivitas di kantor Pertuni NAD, datanglah salah satu NGO asing, yaitu Handicap International yang bermaksud meminta data organisasi. Staf Handicap International, Widya Prasetyanti mengatakan bahwa Handicap International akan membuka Divisi Advokasi dan Inklusi yang terbuka untuk penyandang cacat. Syarat-syarat pendaftarannya adalah membuat surat lamaran dengan melampirkan fotokopi ijazah pendidikan terakhir.

Seminggu kemudian Lisa datang ke kantor Handicap International dengan membawa surat lamaran. Saat itu juga Lisa diwawancarai oleh dua orang staf Handicap International. Pada sore di hari yang sama, pihak Handicap International menghubungi Lisa lewat SMS untuk memberitahukan bahwa Lisa diterima sebagai staf Handicap International untuk Divisi Advokasi dan Inklusi. Untuk meyakinkan dirinya, Lisa menelepon Handicap International dan menanyakan kebenaran informasi tersebut. Ternyata memang benar ia diterima bekerja di Handicap International.

Sebagai NGO yang berkarya untuk penyandang cacat, Handicap International mempekerjakan penyandang cacat itu sendiri. Penyandang cacat yang bekerja di Handicap International terdiri dari tunanetra dan tunadaksa. Untuk kelancaran pekerjaan, Handicap International menyediakan fasilitas kerja yang aksesibel seperti meja komputer yang bisa diakses oleh pemakai kursi roda, dan komputer yang dilengkapi dengan software JAWS untuk tunanetra. Sedangkan untuk kelancaran dalam mobilitas, Handicap International membuat ramp untuk pengguna kursi roda serta jalan setapak yang dilengkapi dengan pegangan tangan (hand rail) dari pintu gerbang sampai ke pintu masuk gedung. Dengan semua fasilitas itu, penyandang cacat yang bekerja di Handicap International dapat menyelesaikan pekerjaannya secara maksimal.

Kesimpulan

Penyandang cacat perempuan di Aceh mengalami diskriminasi ganda, yaitu diskriminasi sebagai perempuan dan diskriminasi karena kecacatannya. Pemerintah dan masyarakat Aceh belum yakin akan kemampuan penyandang cacat, terutama tunanetra. Akibatnya, penyandang cacat usia kerja banyak yang menjadi tidak produktif atau menganggur. Tunanetra di Aceh belum mendapatkan kesempatan untuk menjadi PNS, termasuk belum mendapat kesempatan mengikuti tes CPNS.

Pada prinsipnya, penyandang cacat akan dapat bekerja secara maksimal bila tersedia fasilitas yang aksesibel. Sebagai contoh, Handicap International mempekerjakan penyandang cacat dengan menyediakan fasilitas yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan si penyandang cacat.

Penulis berharap Pemerintah Pusat menghimbau Pemerintah Daerah untuk mengimplementasikan produk-produk hukum yang berkaitan dengan penyandang cacat.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: