jump to navigation

Terperangkap Cintanya Inanguda 13/04/2010

Posted by slbypbbkarimun in Uncategorized.
Tags:
trackback

Aku, sebut saja Fery (nama samaran) adalah sosok yang biasa bak anak-anak lainnya di Negeri ini. Pendidikanku hanya tamatan SMP, namun demikian aku pernah menduduki ruang kelas di SLTA. Disana aku bisa bertahan hanya satu semester saja dan putus akibat ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan. Meski demikian aku tergolong manusia yang smart, mudah menangkap semua pekerjaan dan masalah sosial ekonomi di sekitarku. Soal asmara dan percintaan saya tidak pandang bulu, karna pada hakekatnya cinta itu buta. Benar bukan?

Nah suatu ketika, saya terpaksa harus berangkat dari kampung untuk mengadu nasib di kampung orang di Tanjung Balai Asahan. Keberangkatan saya sama sekali tidak diketahui oleh kedua orang tua saya. Tanpa bekal apapun apalagi duit di kantong karna saat saya meninggalkan kampung hanya bermodalkan sehelai baju dibadan, itupun baju sekolah SMA saya.

Sepeda yang setia menghantarkan saya dari rumah ke simpang (Jalan Lintas menuju sekolah) saya gantungkan di pelepah pohon sawit untuk selamanya. Tanya kenapa? itu saya lakukan untuk menghindari biaya parkir Rp. 500. Keberangkatan saya juga tidak direncanakan. Jika tahu akan berangkat kemungkinan besar itu sepeda pasti saya jual.

Sebelum ke Tanjungbalai asahan, saya sempat menginap di rumah kawan beberapa hari. Disana saya sempat kerja membantu orang tuanya memanen padi. Dari sanalah saya sedikit punya uang dan akhirnya berangkat ke TanjungBalai Asahan. Disini sebenarnya saya juga tidak punya tujuan hingga pada akhirnya saya bertemu seseorang dan diantarkannya saya ke rumah keluarga yang kebetulan hanya semarga.

Setelah cerita panjang lebar seputar sejarah marga (partuturon) ternyata bapak itu masih adik atau berada dibawah marga saya hingga akhirnya dia menyarankan saya untuk memanggilnya Bapa Uda. Dia sendiri berprofesi sebagai pelaut. Meski masih muda dia sudah memiliki 5 cucu. Saat menikah dulu dia berusia 15 Tahun. Bahkan istrinya juga masih kelihatan muda dan cantik. Wajar saja karna Istrinya atau Inanguda ini pintar merawat tubuhnya. Hal tersebut juga didukung oleh penghasil Bapa uda itu yang lumayan besar.

Disini saya di ajak bekerja dengannya berlayar mengangkut barang dari Asahan ke Jakarta. Barang-barang yang kami bawa adalah Ballpres yang sudah dikemas sedemikian rupa. Ballpressed tersebut berasal dari Singapura dan kami jual kembali ke Jakarta dengan harga yang tinggi. Untungnya lumayan besar karna muatan Kapal juga tergolong banyak ketika itu. Sayapun berhasil mendapatkan gaji jutaan rupiah tiap kali berangkat.

Seingat saya saat itu, waktu yang kami tempuh dari Asahan ke Jakarta menggunakan kapal sekitar 40 Jam. Dari Jakarta Kapal tetap bermuatan barang uuntuk dibawa ke Asahan. Barangnya macam-macam. Mulai dari peralatan rumah tangga hingga spearepart kenderaan. Karna saya orang yang mudah mengkap pekerjaan akhirnya saya dipercaya sebagai orang kedua dikapal tersebut. Mulai dari urusan petugas hingga pengecekan barang dan menangani faktur belanja barang.

Pekerjaan itu saya geluti hingga 1 tahun dan berhenti saat Bapa Uda tertangkap oleh petugas bea dan cukai. Saat tertangkap kami sedang bermuatan kayu menuju singapura. Kayu-kayu tersebut kebutulan tidak memiliki dokumen lengkap dan kapal langsung ditarik ke Kanwil I Bea dan Cukai Belawan. Karna yang bertanggung jawab penuh pada kapal tersebut adalah Kapten dan akhirnya Bapa Uda ditahan dengan putusan pengadilan selama 3 Tahun.

Saat itu Bapak Uda berpesan kepada saya untuk mengurusi kasus tersebut agar tidak sampai ke pengadilan. Namun usaha saya tidak berhasil karna penangkapan kemarin dilakukan oleh BC Pusat dari Jakarta. Kuceritakan semuanya di hadapan bapak uda itu saat aku menjenguknya di LP Belawan. Disana saya ditemani oleh semua anak-anaknya. Disitu pula saya baru bertemu dengan keluarga besar Bapak Uda itu termasuk Istrinya (Inang uda).

Waktu membesuk pun telah habis dan dengan terpaksa kami harus pulang ke Asahan meninggalkan Bapak Uda sendirian di Tahanan. Air matanya menetes saat melihat kami meninggalkannya. Begitu juga isterinya dan seluruh anak-anaknya. Inanguda meminta pada anak-anaknya untuk menginap satu malam di Belawan agar bisa membesuk kembali Bapak Uda besok pagi. Namun karena kesibukan pekerjaan, anak-anaknya meminta saya untuk menemani Inanguda. Kami tidak bisa ma, Kerjaan kami bagaimana nanti. Biarlah Bang Fery aja yang temani Mama, toh Abang kan bukan siapa-siap di kelurga kita, Ujar Ikhsan anaknya yang pertama.

Anak-anaknya yang lain juga mengamininya. Maka jadilah Inanguda menginap satu malam di salah satu penginapan di Belawan. Saya minta dua Kamar yang berdampingan saat itu, maksudnya Agar saya bisa sedikit memberikan penghiburan kepada Inanguda soal musibah yang dialaminya. Mungkin karena kelelahan, Inanguda langsung masuk kamar dan menutup Pintu tanpa meningkalkan sepenggal kata kepada saya.

Saya pun langsung masuk ke kamar saya dan bergegas mandi. Karna tidak membawa persiapan baju salinan, saya mencoba keluar. Pikir saya cari angin dulu sekalian belanja celana dan sedikit refresing dari penat seharian mengurusi masalah. Saat keluar kamar saya melihat pintu kamar inanguda terbuka. Saya langsung mendekat dan melihat ternyata inanguda belum tidur.

“Saya tadi mengetuk pintu kamar kamu tapi tak ada balasan, mau minta belikan nasi, Inanguda lapar” katanya. Mendengar itu saya lalu bergegas membelikan pesanannya. Saya langsung belikan dua bungkus karna saya juga belum makan saat itu.

Kami pun makan berdua di kamarnya sambil bercerita soal proses hukum suaminya. Sesekali saya mencuri pandang menatap mata dan wajahnya. Sungguh dia masih kelihatan cantik. Apalagi malam itu dia mengenakan gaun malam. Belahan payudaranya yang masih kencang terlihat manakala dia tertunduk menyantap makanan nasi bungkus dihadapannya.

Usai makan kami masih bercerita hingga akhirnya dia tertidur di kursi sofa kamar hotel tersebut. Melihat itu, Aku pun menyempatkan diri untuk memandangi wajah cantiknya dan bayangan payudara dibalik gaunnya yang cantik. Sungguh dia masih mampu menggairahkan semangat kejantananku. Aku perlahan mendekatinya. Melihatnya lebih dekat lagi. Ohh… Inanguda ini memang cantik. Ingin rasanya aku meraba payudaranya namun aku takut jika nantinya dia tidak terima dan menamparku lalu melaporkan perbuatanku kepada anak-anaknya.

Dia pun kubangunkan agar tidur di tempat tidur dan aku pamit. “Duh aku ketiduran iya? katanya saat ku bangunkan. Iya ndak papa kok Nanguda, mungkin kecapekan. Inaguda istirahat aja dulu, saya juga sudah mulai ngantuk mau istirahat dulu, kataku membalas dan berlalu menuju kamarku. Aku sempatkan melihat kebelakang sebelum aku menutup pintu kamarnya. Dia tersenyum lalu aku membalas senyumannya.  Lalu aku tarik pintu kamarnya. Namun didepan pintu aku masih berhenti seolah ingin kembali lagi ke kamar itu. Aku mencoba mencari sesuatu di pintu paling tidak bisa melihat wajah lagi sebelum aku tidur.

Upaya itupun gagal karna tidak ada celah untuk melihatnya dari lobang atau darimana saja. Ingin mengetok pintu lagi tapi apa alasannya. Sial pikirku dalam hati. Aku meraba kocek celanaku dan bermaksud ingin merokok dulu sebatang untuk menghayal kembali kejadian tadi sebelum tidur. Memang nasib mujur, rokok saya ternyata ketinggalan di kamar Inanguda. Belum saya mengetok, ternyata pintu sudah terbuka. Akupun terkejut dan pucat, Eh.. Inanguda belum tidur? tanyaku nyaris terbata-bata.

Belum.. katanya sambil tersenyum. “Ini rokokmu ketinggalan” katanya lagi. “Iya ini saya juga baru mau ketuk pintu, rupanya Inanguda sudah buka pintu duluan. Makasih Nanguda, kataku seraya mengambil rokok tersebut dari tangannya. Saat itu ingin rasanya aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, namun masih kutahankan dan rasanya mulutkupun terkunci rapat tak mampu mengungkapkan kata-kata. Akupun pergi ke kamarku dan langsung melompat ke kasur empuk ala hotel baertarif LUX tersebut. Andainya dia ada disini mungkin dinginnya AC ini bisa sedikit terbayarkan, pikirku dalam hati hingga akhirnya tertidur pulas dan saat terbangun ternyata sudah pagi.

Aku pun bergegas mandi lalu melihat ke kamar sebelah. Rupanya inanguda belum bangun. Aku ketok pintu kamarnya dan Ia membukanya. Kutatap wajahnya. Meski baru bangun ia kelihatan cantik. Seperti biasa ia tersenyum. Senyumannya memang mebuat aku hanyut. “Cepat kali bangunnya dan pagi-pagi sudah rapi padahal masih pagi, katanya. Anak Kapal harus begitu inanguda kataku di depan pintu. “Ia udah masuk dulu, kita berangkatnya jam 8 aja. jam segini percuma aja orang di kantor juga belum masuk. Jam besuknya juga jam 10 kok, ujarnya.

“Ohh iya udah, aku tunggu di kamar saya aja Nanguda, kataku seraya meninggalkannya dikamarnya. Akupun bergegas lagi masuk ke kamar dan mencoba menonton TV menunggu waktu hingga jam yang ditentukannya tadi. Tak lama seseorang mengetok pintu. Ternyata pelayan hotel ingin mengantarkan kupon breakFast. Akupun langsung turun untuk sarapan ke lantai satu. Kulihat pintu kamar Inanguda masih tertutup. Mungkin masih melanjutkan tidur pikirku.

Belum sampai di lantai satu perutku terasa mulas, aku kembali lagi masuk ke kamar untuk buang air. Saking kebelet aku langsung melempar celana diatas kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi. Kata orang malaysia, dibilik termenung itu aku masih terbayang payudaranya Inanguda dan wajah cantiknya. Tak sadar anukupun tampak tegang hingga aku selesai buang air. Ingin rasa aku bercinta dengannya.

Sesaat aku terkejut karna tiba-tiba saat aku buka pintu kamar mandi, Inanguda sudah ada di Kamarku. Aku balik lagi ke kamar mandi. lalu Ku panggil dia untuk keluar sebentar karna celanaku ada diatas kasur. Bukannya keluar malah inanguda mengambilkan handuk untukku. “Bukannya tadi udah mandi” katanya seraya menyerahkan handuk padaku. Perutku mulas nanguda, mungkin masuk angin, abis ACnya Dingin Kali. Pakai selimutpun masih terasa dingin, tapi klo ada kawan disamping mungkin dinginnya sedikit bisa teratasi, jawabku mencoba bercanda menghangatkan suasana.

Inanguda tersenyum. “Ayo cepatan kita berangkat” katanya. Gimana mau berangkat, Nanguda masih disini, jawabku. Iya udah pakai celana, apa perlu inanguda makekannya, ujarnya. Tak pikir panjang, saat dia menatapku aku langsung buka handuk dan… Bersambung..

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

menu 1Menu 3menu 2

 

 

menu 4

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: